Tanggal Posting

September 2012
M T W T F S S
 12
3456789
10111213141516
17181920212223
24252627282930

Aktifitas


“MODERAT” DALAM FIQIH

by: ahmad sarwat
http://insistnet.com

Kata ”al-wasathiyah” dalam bahasa Arab berasal dari kata ”al-wasath”  yang diterjemahkan secara bahasa dengan makna ”pertengahan”. Maka manhaj wasathiyah dimaknai sebagai pendapat pertengahan di antara dua atau lebih pendapat yang berbeda. Dan sering juga dianggap sebagai pendapat moderat.

Jika disimak zaman awal mula berdirinya mazhab-mazhab fiqih besar, maka akan dijumpai dua kutub fiqih yang berbeda. Pertama adalah mazhab ahlur-ra’yi, yaitu mazhab Al-Hanafiyah yang berpusat di Kufah. Tokoh besarnya adalah Al-Imam Abu Hanifah rahimahullah (80-150 H). Kekuatan yang paling menonjol dari mazhab ini memang pada penggunaan nalar dan logika (manthiq), meski bukan berarti meninggalkan nash dan atsar (Wahbah Az-Zuhaily, Al-Wajiz fi Ushul Al-Fiqh, hal. 57)

Seandainya tidak ada qiyas yang dikembangkan mazhab ini, boleh jadi bangsa Indonesia hari ini masih membayar zakat fitrah dengan kurma dan gandum. Bahkan mungkin khamar hanya dimaknai sebatas air perasan buah kurma dan anggur semata.

Kedua,  adalah mazhab ahli hadits yang berpusat di Madinah, tokoh besarnya Al-Imam Malik rahimahullah (93 – 179 H). Mazhab ini bukan berarti tidak menggunakan qiyas atau logika, namun penggunaan nash dan atsar sangat dominan. Bahkan pendapat dan fatwa shahabat (qaul shahabi) termasuk ke dalam sumber fiqih mereka, termasuk praktek penduduk Madinah (amalu ahlil-madinah), walau pun dari bukan level shahabat, juga dijadikan salah satu dasar pengambilan fatwa.

Lalu posisi yang boleh dibilang agak di tengah dari keduanya adalah mazhab Asy-Syafi’iyah. Al-Imam Asy-Syafi’i rahimahullah (150-204 H) sering disebut-sebut sebagai pendiri mazhab wasathiyah yang menjadi jembatan penghubung di antara kedua mazhab itu. Beliau sendiri awalnya berguru kepada Al-Imam Malik di Madinah, namun kemudian juga berguru kepada murid-murid Al-Imam Abu Hanifah di Kufah. Sampai akhinya beliau menjadi mujtahid mutlak, dan mendirikan mazhab baru yang terpisah dari dua mazhab sebelumnya.

Namun keistimewaan yang ada pada kedua mazhab yang agak berbeda itu malah menyatu di dalam mazhab Asy-Syafi’iyah. Di satu sisi mazhab itu punya dasar kekuatan nash yang cukup fundamental, sementara ketika bicara nalar dan logika, juga punya kekuatan yang nyaris sama.

Nampaknya Al-Imam Asy-Syafi’i rahimahullah memandang bahwa masing-masing mazhab yang sudah ada sebelumnya memang punya kekuatan dan keistimewaan yang tidak bisa dinafikan. Lalu mengapa tidak digunakan masing-masing kekuatan itu.

Walaupun perlu dicatat bahwa mazhab Asy-Syafi’iyah sendiri bukan hasil ‘kanibalisasi‘ dari kedua mazhab sebelumnya. Mazhab itu didirikan di atas sumber-sumber yang muktamad, hasil ijtihad dari sang pendiri, Al-Imam Asy-Syafi’i sendiri.

Al-Wasathiyah di Masa Kini

Para ulama kontemporer yang benar-benar memahami ilmu fiqih dan ushul fiqih, rata-rata sepakat bahwa saat ini kita semua tidak berada pada level mujtahid, dalam arti sebagai mujtahid mutlak. Kapasitas kita bukan sebagai orang yang berhak untuk mendirikan mazhab baru, di luar keempat mazhab yang sudah eksis sebelumnya.

Oleh karena itu, wujud al-wasathiyah di masa modern ini barangkali bukan lagi seperti yang dilakukan oleh Al-Imam Asy-Syafi’i 1300-an tahun yang lalu. Hari ini kita tidak perlu membangun mazhab baru, karena selain para ulama Islam di masa kini tidak punya kapasitas, juga sebenarnya kita memang tidak terlalu memerlukannya.

Sebagai ”orang awam” dan bukan mujtahid, bisa bersikap wasathiyah, yaitu sikap dan posisi yang pertengahan, moderat, adil, seimbang di antara sekian banyak perbedaan pendapat fiqih. Kalau pun seseorang cenderung pada suatu pendapat dan meyakininya sebagai lebih rajih (unggul), maka sikapnya tidak harus menyalahkan atau menafikan pendapat yang lain. Pendapat yang lain perlu juga diakui, bahkan diberikan fasilitas yang layak, agar wujud harmonisasi benar-benar nyata.

Misal, dalam masalah khilafiyah qunut shubuh, dimana mazhab Al-Hanafiyah menyatakannya sebagai ”bid’ah” (Majma’ Al-Anhar jilid II hal. 129), namun mazhab As-Syafi’iyah malah mengatakannya ”sunnah muakkadah. (Al-Imam An-Nawawi, Al-Adzkar hal. 86).

Posisi kita yang bukan mujtahid tidak bisa menjadi semacam hakim atau dewan juri, yang merasa berhak untuk meloloskan suatu pendapat dan membatalkan pendapat yang lain. Biarlah kedua mazhab itu berbeda, karena masing-masing punya dalil yang amat kuat dan sulit untuk diruntuhkan begitu saja. Dan biarlah kedua pendapat itu diikuti oleh masing-masing pengikutnya, tanpa harus dipojokkan atau dipersalahkan.

Kasus lain, misalnya, dalam hal perbedaan membayar zakat fitrah dengan uang atau beras. Di sini juga bisa bersikap wasathiyah. Sebagaimana dipahami, jumhur ulama menetapkan bahwa zakat fitrah itu sesuai dengan namanya yang bermakna makanan, maka harus diberikan dalam bentuk makanan, yaitu bahkan makanan yang masih mentah dan merupakan makanan pokok bagi penduduk suatu negeri (quut balaidihi). (Dr. Yusuf Al-Qaradawi, Fiqhuzzakar, jilid 2 hal. 959). Sementara mazhab Al-Hanafiyah membolehkan zakat itu diganti dengan uang yang senilai dengan makanan. Dan kedua pendapat ini tidak mudah disatukan begitu saja. (Ibnu Qudamah, Al-Mughni, jilid III hal. 65).

Maka bentuk sikap wasathiyah bagi panitia zakat misalnya dengan memberikan fasilitas penjualan beras, sehingga buat mereka yang tetap ingin membayar dengan beras, bisa membeli dulu beras kepada panitia, lalu beras itu diserahkan kepada panitia untuk disalurkan kepada fakir miskin. Tentu panita tidak perlu belanja beras dulu dan memenuhi kantor sekretariat dengan karung beras. Karena jual beli itu bisa menggunakan sistem akad salam (salaf), dimana uang diserahkan namun penyerahan barangnya ditangguhkan.

Kalau boleh disimpulkan, inti dari sikap wasathiyah adalah sikap tawadhu’ dan rendah hati, khususnya bagi mereka yang belajar ilmu agama. Ilmu yang dipelajarinya tidak membuat dirinya merasa paling pintar, lalu bersikap orang lain harus berada dalam posisi selalu salah. Semakin dalam ilmunya, maka semakin menunduk karena merasa semakin bodoh. Sebaliknya, semakin dangkal ilmunya, memang biasanya semakin over acting memperlihatkan kebodohannya.

Sikap wasathiyah ini akan lebih mudah terbangun manakala seseorang belajar  ilmu fiqih secara lebih dalam dari para ulama yang ahli di bidangnya. Karena dengan itu akan terbuka cakrawala keilmuannya. Maka belajar fiqih kalau perlu tidak hanya dari satu guru, dan juga perlu punya kitab yang beragam dari berbagai mazhab, serta melakukan berbagai kajian perbandingan mazhab.

Sebab mereka yang belajar ilmu fiqih secara benar, pasti akan menemukan bahwa perbedaan pendapat itu sebuah realita yang tidak mungkin dihindari, dan selalu akan terus muncul dalam setiap momen kehidupan. Maka tidak mungkin di masa keterbukaan ini, kita masih saja asyik untuk meributkan khilafiyah, sampai ke titik saling caci, saling ejek, atau saling melecehkan.

Yang dibutuhkan adalah sikap wasathiyah, dimana kita tetap menghormati para ulama dengan masing-masing pendapat mereka, lalu kita memberikan kebebasan kepada umat untuk memilih mana yang sekiranya mereka pilih. Tugas kita justru memberi informasi yang selengkap-lengkapnya dan sejujurnya, dan bukan memaksakan satu pendapat dan melecehkan yang lain.

Intinya, menghindari perbedaan pendapat itu harus dengan cara mempelajarinya secara menyeluruh, dan bukan dengan meninggalkan atau malah membuang ilmu fiqih.  Juga, sikap wasathiyah bukan berarti orang boleh berpendapat semaunya tanpa ilmu. Wallahua’lam bishshawab.

Oleh: Ahmad Sarwat (Pendiri Rumah Fiqih Indonesia)

 

***


Leave a Reply

You can use these HTML tags

<a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <s> <strike> <strong>